Makin ramainya minat perempuan melatih tubuh di pusat-pusat kebugaran atau berlari di taman-taman kota menjadi pertanda baik, sebagai salah satu mencegah kanker. Namun, satu hal itu saja belum cukup. Para ahli menganjurkan juga sikap selektif memilih makanan, dengan memperbanyak porsi buah dan sayur.
Upaya mengurangi kemungkinan terkena kanker payudara, kanker serviks, maupun kanker jenis lain yang lebih sering mengenai perempuan, perlu dilengkapi dengan beberapa kiat berikut, seperti dianjurkan oleh dokter-dokter dari Institut Kanker Nasional dl Amerika Serikat dan Yayasan Kanker Indonesia.
1. Menjaga berat badan ideal, dengan indeks massa tubuh kurang dari 25. Usaha ini tentu harus dilakukan sejak dini. Kelebihan berat badan, apalagi sampai terjadi kegemukan, bisa mengundang risiko berbagai penyakit, termasuk kanker. Sebuah studi yang dilakukan di AS melaporkan bahwa bertambahnya berat badan di usia pertengahan (50 tahun ke atas) atau setelah menopause, secara signifikan akan meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Supaya tidak mudah gemuk di usia pertengahan, harus memelihara berat badan ideal sejak muda.
2. Konsumsi buah dan sayur yang dianjurkan, yaitu 2-3 porsi buah-buahan dan 3-5 porsi sayuran dalam sehari, untuk mendapatkan asupan antioksidan yang cukup. Makanan yang tergolong ampuh menangkal kanker di antaranya brokoli, kembang kol, kol brussel, kubis, bayam, sawi, wortel, tomat, stroberi, jeruk, anggur, dan lainnya. Konsumsi sayuran keluarga kubis sebaiknya dalam kondisi mentah atau setengah matang, supaya fitokimia di dalamnya tidak rusak.
3. Konsumsi lemak baik. Lemak jenuh, lemak trans, dan lemak omega-6 dapat menjadi faktor risiko terjadinya kanker payudara. Karena itu, kurangi konsumsinya. Sebaliknya, ganti dengan lemak omega-3 dan lemak tak jenuh, misalnya yang berasal dari ikan tuna, sardin, ikan kembung, minyak zaitun, alpukat. Minyak zaitun misalnya, mengandung polifenol yang mampu melindungi diri dari kanker.
4. Konsumsi karbohidrat yang tepat. Makan nasi putih atau roti putih tak dilarang, tapi coba kurangi dan lebih sering menggantinya dengan karbohidrat yang memiliki indeks glikemik rendah seperti bekatul atau roti gandum yang tinggi serat dan mengandung lignan yang menyehatkan. Gula putih dan makanan manis-manis juga sebaiknya dikurangi karena dapat memicu perubahan hormonal yang akan meningkatkan pertumbuhan sel-sel dalam jaringan payudara.
5. Tambahkan konsumsi kedelai. Kedelai rebus lebih sehat untuk camilan. Tahu, tempe, dan susu kedelai juga terbukti menyehatkan. Sebuah studi epidemiologi memperlihatkan konsumsi produk kedelai berkait erat dengan berkurangnya risiko kanker payudara. Sebaiknya memilih produk organik atau kedelai yang tidak mengalami proses rekayasa genetika.
6. Olahraga teratur akan memperkuat daya tahan tubuh, sehingga dapat menangkal kanker. Jalan cepat atau jalan kaki tergopoh-gopoh selama 30 menit, lima kali seminggu, sudah cukup untuk membantu mencegah kanker. Yang penting lakukan kebiasaan sehat ini secara konsisten.
7. Pelihara mental. Berpikir positif, ciptakan hubungan yang hangat dan menyenangkan dengan keluarga, rekan kerja, maupun teman-teman yang lain. Hadapi setiap detik kehidupan dengan kebahagiaan yang bersumber dari diri sendiri. Cara yang mudah dan super murah ini sangat ampuh untuk menghalangi masuknya segala penyakit, termasuk kanker.
8. Istirahat cukup, 7-8 jam sehari. Tidak tidur terlalu larut dan bangun di pagi hari yang segar, selain membuat pikiran sehat, juga menyehatkan badan. Tidur malam yang baik akan memberi kesempatan tubuh untuk meremajakan diri secara alami, memperbaiki sel-sel yang rusak, dan hormon pertumbuhan bekerja secara optimal.
9. Hindari paparan obat-obatan estrogen tanpa indikasi medis yang jelas. Juga hindari bahan serupa estrogen seperti pestisida dan zat kimia lainnya yang kerap ditemukan sebagai polutan. Memilih produk organik lebih dianjurkan. Atau cuci produk nonorganik dengan cermat, misalnya menggunakan air yang diberi garam atau baking soda.
10. Tambahkan suplemen. Jika tidak bisa mendapatkan vitamin dan mineral dari makanan harian, pertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen multivitamin, seperti vitamin C, vitamin E, selenium, dan lainnya.
11. Batasi atau hindari asupan alkohol. Sebuah studi yang dinamakan The Harvard Nurses Health Study melaporkan bahwa konsumsi alkohol lebih dari 1 kali sehari dapat meningkatkan kejadian kanker payudara hingga 20-25 persen. Jadi, sesekali minum alkohol boleh saja!
Terkait Faktor GenSelama sekitar 40 tahun, kebanyakan studi tidak menemukan hubungan antara kebiasaan merokok dan kanker payudara. Banyak riset yang lebih fokus terhadap kemungkinan meningkatnya risiko kanker payudara pada perokok pasif karena pada mereka ini ditemukan zat-zat kimia dari asap rokok pada jaringan payudara serta susu. Namun, kemudian muncul penjelasan bahwa asap tembakau ini memberikan efek berbeda pada payudara dan bukan kanker.
Para ahli dari University of Toronto, Kanada, yang melakukan analisis terhadap hasil studi-studi terdahulu menemukan adanya kaitan antara merokok aktif maupun pasif, dengan meningkatnya risiko terkena kanker pada perempuan sebelum maupun sesudah menopause.
"Tim panel ini dengan hati-hati menganalisis dari semua bukti yang tersedia, terutama bukti-bukti terbaru, membawa kami pada kesimpulan bahwa terdapat bukti persuasif atas risiko tersebut," ungkap Dr. Neil Collishaw, salah seorang anggota tim peneliti tersebut.
Dalam studi tersebut dinyatakan bahwa perempuan yang mulai merokok pada usia dini mengalami peningkatan risiko hingga 20 persen untuk terkena kanker payudara, dibandingkan dengan perempuan yang tidak pernah merokok. Risiko kanker payudara juga lebih tinggi pada para perempuan yang sudah menopause dan merokok, maupun para perempuan yang belum menopause, tetapi terpapar asap rokok dari lingkungannya.
Dijelaskan bahwa risiko kanker itu berkaitan dengan adanya faktor gen NAT2. Risiko tersebut lebih tinggi pada perempuan yang memiliki gen NAT2 dalam tubuhnya karena gen ini membuat tubuh lamban dalam mengeluarkan zat amina aromatis yang bersifat karsinogen. Amina aromatis ini bisa ditemukan dalam plastik, dalam polusi lingkungan, daging atau ikan bakar, asap rokok, dan lainnya.
Tim ini akan melakukan studi lanjut untuk mengetahui hubungan antara risiko kanker dengan sejak usia berapa terpapar asap rokok atau mulai merokok, perilaku merokok sebelum hamil, lamanya merokok, serta banyaknya konsumsi rokok.
Sumber : http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Hot+Topic&y=cybermed|0|0|5|258
Comments[ 0 ]
Posting Komentar